Oleh : Muhammad Rifki Nisardi (Dept. Jurnalis)
Dikutip dari sumber :
Garis-Garis Kecil
Peringatan bagi orang yang terpedaya dan sering mengulangi
kemaksiatan. Semoga kita terhindar dari fenomena ini. Sekedar sharing
sebuah artikel pendek namun bermanfaat. **
Ada fenomena ‘aneh’ pada sebagian orang. Ketika akan berbuat maksiat,
sudah ditanamkan untuk tobat setelah perbuatan buruk yang ia lakukan.
Dalam hatinya ia berbisik, “Nanti setelah aku melakukan maksiat ini,
saya akan bertaubat.”
Memang betul, pintu tobat akan tetap terbuka sebelum matahari terbit
dari arah barat. Siapa saja bertobat kepada Allâh dengan tobat
sebenarnya (tobat nashuha) dari perbuatan syirik dan perbuatan lain yang
lebih rendah darinya, Allâh Subhanahu wa Ta’ala akan menerima tobatnya.
Tobat nashûhâ ialah tobat yang mencakup beberapa aspek yaitu berhenti
dari perbuatan dosa, menyesali dosa yang diperbuat dan bertekad kuat
untuk tidak mengulangi lagi sebagai realisasi dari rasa takutnya kepada
Allâh Subhanahu wa Ta’ala, pengagungannya kepada Allâh Subhanahu wa
Ta’ala dan demi mengharap maaf dan ampunan-Nya.
Syarat sahnya tobat bertambah menjadi empat bila kesalahan
seseorang berhubungan dengan hak sesama (orang lain). Yaitu dengan
menyerahkan hak-hak orang tersebut yang diambil secara zalim, baik
berupa harta (yang dicuri) atau meminta dibebaskan (dihalalkan) darinya.
Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Barangsiapa pernah berbuat zalim kepada saudaranya terhadap
kehormatannya atau yang lain, henadaknya meminta orang itu untuk
menghalalkan kesalahannya dari perbuatan aniaya tersebut hari ini
sebelum datang hari tidak ada uang dinar dan dirham. Apabila ia memiliki
kebaikan, maka sejumlah kebaikan akan diambil darinya sebanding dengan
perbuatan kezhalimannya (untuk diserahkan kepada orang yang teraniaya).
Apabila tidak memiliki kebaikan, maka akan diambilkan dosa saudaranya
dan dilimpahkan kepada dirinya.” (H.R. al-Bukhâri, no. 2269) .
Tekad untuk bertobat dari perbuatan dosa merupakan tekad baik yang
berhak untuk dihargai. Namun, ketika bisikan “bertobat” ini justru
mendorongnya untuk mengawali rencana tobatnya dengan perbuatan maksiat,
ini yang perlu diwaspadai. Jika ini yang terjadi, tidak diragukan lagi,
ini termasuk tipu daya setan pada diri manusia untuk memudahkan berbuat
maksiat dengan dalih di kemudian hari ia akan bertobat usai berbuat
maksiat. Tidakkah si pelaku mengkhawatirkan dirinya? Bisa saja Allâh
Subhanahu wa Ta’ala menyulitkan jalan bertobat baginya, sehingga akan
mengalami penyesalan yang tiada kira dan kesedihan yang tak terukur di
saat penyesalan tiada berguna lagi.
Kewajiban seorang muslim adalah menghindari perbuatan syirik dan
hal-hal yang menyeret kepadanya, serta menghindari seluruh perbuatan
maksiat. Sebab, bisa saja ia dicoba dengan bergelimang dalam maksiat, namun tidak mendapat taufik untuk bertobat.
Oleh karena itu, ia harus selalu menjauhi seluruh perkara yang
diharamkan oleh Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan memohon keselamatan
dari-Nya, tidak menuruti bujukan setan, sehingga berani berbuat maksiat
dengan menyisipkan niat di hati untuk bertobat sebelumnya.
Simaklah firman-firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikut yang berisi
perintah untuk selalu takut kepada-Nya, ancaman bagi siapa saja yang
nekat berbuat maksiat, dan larangan mengikuti bisikan hawa nafsu dan
rayuan setan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَإِيَّاىَ فَارْهَبُونِ
“dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).” (Q.S. al-Baqarah/2: 40).
Dalam ayat lain, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَيُحَذِّرُكُمُ اللهُ نَفْسَهُ
“Dan Allâh memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.” (Q.S. Ali ‘Imrân/3: 28).
Dalam ayat yang lain, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya,
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allâh adalah benar, maka sekali-kali
janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah
setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allâh. Sesungguhnya
setan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu),
karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya
mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Fâthir/35: 6).
0 komentar:
Posting Komentar